Jumat, 24 Februari 2017

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Menurut pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No.13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008:32).  Dalam kehidupan ini, manusia mengalami penuaan. Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang dideritanya (Constantinides, 1994). Terdapat batasan pada lanjut usia. Batasan umur lansia menurut WHO meliputi usia pertengahan ialah kelompok usia 45-59 tahun, lanjut usia antara 60-74 tahun, lanjut usia tua antara 75-90 tahun, dan usia sangant tua ialah di atas 90 tahun. Selain itu, menurut Setyonegoro, dalam Padila (2013) ialah usia dewasa muda usia 18/20-25 tahun, usia dewasa penuh usia 25-60/65, lanjut usia >65/70.

Sesorang yang sudah memasuki masa lansia banyak mengalami masalah nutrisi maupun perubahan-perubahan fisiknya. Perubahan-perubahan fisik pada lansia menurut (Maryam, 2008:55) ialah sel, jumlah sel berkurang dan cairan tubuh menurun. Kemudian, kardiovaskuler kemampuan memompa darah menurun. Respirasi, kekuatan otot-otot pernafasan menurun. Persarafan, fungsinya menurun. Muskuluskeletal, cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh. Gastrointestinal, asam lambung menurun. Pendengaran, terjadi gangguan pendengaran. Penglihatan, respon terhadap sinar berkurang. Kulit, keriput serta kulit kepala dan rambut menipis. Sedangkan masalah nutrisi yang terjadi paa lansia misalnya tenaga berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, dan sebagainya. Berdasarkan data di Komisi Nasional Lanjut Usia (Komnas Lansia) dan Departemen Sosial, pada tahun 2000 tercatat sekitar 7,18% penduduk Indonesia berlansia atau setara dengan 14,4 juta orang, hingga Mei 2009 jumlah lansia mencapai kurang lebih 20 juta orang atau terbesar keempat dunia setelah AS, China, dan India, dan diperkirakan pada tahun 2020 jumlah akan mencapai 11,34% dari seluruh penduduk Indonesia atau setara dengan 28,8 juta orang. Namun, ada sekitar 74% dari lansia usia 60 tahun ke atas menderita penyakit kronis yang harus makan obat terus-menerus selama hidup mereka.

Berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah nutrisi pada lansia antara lain melalui monitoring BB (kartu lansia), pendidikan gizi. Lansia dengan penyakit degeneratif perlu diberikan konseling gizi. Konseling gizi misalnya posyandu lansia yang bertujuan untuk meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, pendidikan gizi yang bertujuan agar masyarakt dapat memilik dan mempertahankan pola makan, penyuluhan kesehatan dan konseling gizi yang bertujuan untuk mengembangkan pengertian yang benar dan sikap yang positif individu/pasien atau kelompok/keluarga pasien (receiver), keluarga sadar gizi (kadarzi) yang bertujuan agar suatu keluarga mampu mengenal, mencegah, dan mengatasi masalah gizi setiap anggotanya.

1.2.Rumusan Masalah
a         Apa Pengertian Lansia?
b        Bagaimana Batasan Usia Lansia
c         Bagaimana Proses Menua?
d        Bagaimana Perubahan pada Sistem Tubuh pada Lansia Akibat Gangguan Sistem Pencernaan?
e         Bagaimana Kebutuhan Nutrisi pada Lansia?
f         Bagaimana Kebutuhan Lansia dapat Terpenuhi dan Hidup dalam Kesejahteraan pada Masa   Lansia?

1.3.Tujuan Masalah
1.      Mengetahui pengertian lansia
2.      Mengetahui batasan usia lansia
3.      Mengetahui bagaimana proses menua
4.      Mengetahui perubahan pada sistem tubuh pada lansia akibat gangguan sistem pencernaan
5.      Mengetahui kebutuhan nutrisi pada lansia
6.      Mengetahui pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan lansia

   


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Lansia
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia. Menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008). Secara umum, seseorang dikatakan lanjut usia (lansia) apabila usianya 65 tahun ke atas. Usia 65 tahun merupakan batas minimal untuk kategori lansia. Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis. Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara individual (Efendi, 2009).

2.2. Batasan Usia Lansia
Menurut Santoso (2010 ), lansia adalah orang dengan usia di atas 60 tahun. Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), batasan umur lansia ada empat tahap, yang pertama usia pertengahan yang berkisar antara 45 sampai 59 tahun. Kedua lansia yang berkisar antaara 60 sampai 74 tahun. Ketiga lansia tua yang berkisar antara 75 sampai 90 tahun. Terakhir usia sangat tua yang berkisar lebih dari 90 tahun. Menurut Depkes (2011), batasan usia lansia meliputi, pra lansia kelompok usia antara 45 sampai 59 tahun, lansia antara 60 sampai 69 tahun dan lansia beresiko kelompok usia lebih dari 70 tahun.

Lima  klasifikasi usia pada lansia (Maryam, 2008) yaitu, Pra lansia atau prasenilis adalah seorang yang berusia antara 45 sampai 59 tahun, kemudian lansia adalah seorang yang berusia 60 tahun atau lebih, lansia beresiko tinggi adalah seorang yang berusia 70 tahun atau lebih atau seseorang yang berusia 60 tahun lebih dengan masalah kesehatan (Depkes RI, 2003), selain itu lansia potensial tinggi adalah lansia yang masih mampu melakukan aktivitas, yang terakhir lansia tidak potensial adalah lansia yang tidak berdaya dalam mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain (Depkes RI, 2003).

2.3. Proses Menua
                   Proses menua adalah suatu tahapan hilangnya kemampuan jaringan secara perlahan-lahan untuk memperbaiki diri dan mempertahankan fungsi yang normal. Proses menua merupakan proses yang terjadi secara terus-menerus dan alamiah dimulai sejak lahir dan setiap individu berbeda kecepatannya. Menua bukanlah status penyakit yang terdapat pada diri seseorang tetapi menua merupakan proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh.

                   Ada beberapa macam teori yang berkaitan dengan proses penuaan menurut Darmojdo, antara lain Teori Genetik Clock, menurut teori ini proses menua telah terprogram oleh waktu secara genetik untuk spesies atau jenis tertentu. Kemudian Teori Mutasi somatik, menurut teori ini telah terjadi mutasi progresif pada DNA sel somatik yang menyebabkan menurunnya kemampuan fungsional sel somatik. Lalu adanya Teori Rusaknya Sistem Imun Tubuh, menurut teori ini terjadinya mutasi yang berulang maupun perubahan protein setelah translasi mengakibatkan sistem imun tubuh berkurang kemampuannya untuk mengenali dirinya maka hal ini menyebabkan peristiwa autoimun. Selain itu terdapat Teori Radikal Bebas, menurut teori ini tidak stabilnya radikal bebas di alam bebas mengakibatkan oksidasi oksigen sehingga menyebabkan sel-sel tidak bisa regenerasi. Teori menurut Darmodjo yang terakhir adalah Teori Menua Akibat Metabolisme, menurut teori ini penurunan jumlah kalori disebabkan karena menurunnya salah satu proses metabolisme yang akan menghambat pertumbuhan dan perpanjangan usia.

2.4. Perubahan Sistem Pencernaan
Kehilangan gigi, penyebab utama adanya periodental disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi buruk. Indera pengecap menurun, adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap (±80%), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap di lidah terutama rasa manis, asin, asam, dan pahit. Esofagus (kerongkongan) melebar. Rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun), asam lambung menurun, peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi atau sembelit. Fungsi absorbsi melemah (daya absorbsi terganggu). Liver (hati) semakin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan serta berkurangnya aliran darah.

2.5. Kebutuhan Nutrisi pada Lansia
Semua makhluk hidup memerlukan sumber energi untuk kelangsungan hidupnya. Tubuh memerlukan makanan yang bergizi untuk proses metabolisme. Pemenuhan kebutuhan gizi dengan baik dapat membantu menyesuaikan proses perubahan yang dialami dan dapat menjaga kelangsungan pergantian sel tubuh sehingga dapat memperpanjang umur untuk para lansia. Berdasarkan kegunaan bagi tubuh, zat gizi dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu zat energi, zat pembangun dan zat pengatur.

Pertama, zat energi. Dalam bahan makanan, zat energi ini mengandung  karbohidrat dan lemak. Bahan makanan yang mengandung karbohidrat seperti beras, jagung, ubi, roti dll. Sedangkan bahan makanan yang mengandung lemak seperti santan, mentega, minyak dll. Kedua, zat pembangun. Dalam bahan makanan, zat pembangun ini mengandung protein. Bahan makanan yang mengandung protein seperti tempe, tahu, ikan, daging dll. Ketiga, zat pengatur. Dalam bahan makanan, zat pengatur ini mengandung vitamin dan mineral. Bahan makanan yang mengandung vitamin dan mineral seperti buah, sayur dll.


2.6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Gizi pada Lansia
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan gizi pada lansia antara lain kerusakan gigi (ompong) sehingga kemampuan mencerna makanan berkurang, menurunnya cita rasa terhadap makanan karena melemahnya indera pengecap, pelebaran yang terjadi pada kerongkongan (oesophagus), asam lambung dan rasa lapar menurun, gerakan usus yang lemah, dan menurunnya penyerapan makanan di usus.

2.7. Masalah Gizi pada Lansia
a         Gizi Berlebih
Banyak terjadi di negara bagian barat dan kota besar. Berat badan berlebih dapat diakibatkan karena kebiasaan makan yang banyak saat muda dan pada lansia kalori yang digunakan berkurang karena aktivitas fisiknya berkurang kegemukan adalah salah satu penyebab terjadinya berbagai penyakit seperti jantung, darah tinggi dan kencing manis.

b        Gizi Kurang
Terjadinya kekurangan gizi disebabkan oleh masalah sosial ekonomi dan gangguan penyakit. Berat badan yang kurang dari normal dapat disebabkan karena rendahnya konsumsi kalori dalam tubuh, dan bila kekurangan protein dapat menyebabkan kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki. Hal tersebut mengakibatkan kerontokan rambut, penurunan daya tahan tubuh, dan mudah terkena infeksi.

c         Kekurangan Vitamin
Kurang mengkonsumsi buah, sayur serta protein dapat mengakibatkan kulit kering, lesu, tidak semangat, kurang nafsu makan, serta penurunan penglihatan.


2.8. Pemantauan Status Gizi
a         Penimbangan Berat Badan
Penimbangan Berat Badan dilakukan secara teratur minimal satu minggu sekali.
b        Kekurangan Kalori Protein
Penurunan asupan protein pada lansia mengakibatkan tidak semangat dan mudah terserang penyakit.
c         Kekurangan Vitamin D
Terjadi bila kurang mendapat sinar matahari, jarang minum susu, kurang mengkonsumsi vitamin D yang terdapat pada ikan, hati, susu dll.

2.9 Asupan Makanan pada Lansia
Gangguan pengaturan nafsu makan dan asupan energi berhubungan juga dengan proses penuaan yang dapat menimbulkan anoreksia atau obesitas. Untuk anoreksia disarankan untuk mempertimbangkan tambahan energi dari minuman, sedangkan obesitas harus mengkonsumsi makanan berbentuk padat.

2.10. Gizi Tepat untuk Lansia
Gizi yang tepat bagi lansia antara lain memperhatikan prinsip kebutuhan gizi, gizi yang disajikan dalam menu harus seimbang, penyesuaian tekstur dan bentuk makanan, mengurangi makanan berlemak tinggi, mengurangi atau menghindari mengkonsumsi makanan yang mengandung garam natrium tinggi, serta Memperbanyak makan buah, sayur, dan air putih.

2.11. Perencanaan Makanan Untuk Lansia
Dalam perencanaan makan bagi lansia, perlu diperhatikan beberapa hal, seperti makanan harus mengandung zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. Kemudian memperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Lalu, mengurangi konsumsi garam dan memperbanyak minum. Selain itu, membatasi makanan manis, berlemak serta membatasi menum kopi atau teh, memperbanyak konsumsi makanan yang mengandung zat besi, serta disarankan pengolahan makanan yang dikukus, direbus, maupun dipanggang serta kurangi makanan yang digoreng.



BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Manula memiliki kebutuhan nutrisi secara khusus karena sistem jaringan dan organ mereka mengalami penuaan. Kesehatan nutrisi membantu manula menjaga hidup yang lebih aktif dan menyenangkan, melindungi mereka dari penyakit, mengurangi keparahan penyakit, dan mempercepat pemulihan penyakit. Maka dari itu manula membutuhkan asupan nutrisi yang tepat.

3.2. Saran
Sebaiknya lansia tidak mengabaikan makanan yang dikonsumsi sehari-hari dan tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat atau memaksakan diri. Selain dari pada itu sebaiknya keluarga lansia lebih memperhatikan asupan nutrisi, kesehatan, dan mengontrol aktivitas lansia, keluarga juga harus ikut berperan didalamnya. Ada pun pemerintah ikut serta memberikan bantuan tambahan asupan makanan yang bergizi kepada masyarakat kurang mampu khususnya lansia yang sangat rentan terhadap penyakit. Tidak luput juga dengan jangkauan panti di sarankan melakukan peningkatan kebutuhan nutrisi dengan cara makan makanan dengan gizi seimbang, yaitu diimbangi dengan keadaan hidup bersih untuk setiap individu dan telaten untuk mengontrol asupan nutrisi lansia. Dalam hal ini Dinas Sosial juga ikut berperan dan ikut juga dalam membantu  melakukan penyuluhan pada masyarakat khususnya masyarakat desa yang kurang paham terhadap kebutuhan nutrisi pada lansia. 



DAFTAR PUSTAKA

Potter & Perry.2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Edisi 4.Jakarta :EGC

http/www. Kebutuhan nutrisi pada lansia.com,, di akses pada hari minggu, jam 11.31.wib.